Jumat, 12 Desember 2008

TEORI PERUBAHAN SOSIAL KLASIK

Selayang Pandang
Perubahan sosial dialami oleh setiap masyarakat, yang pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dengan perubahan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Perubahan sosial dapat meliputi semua segi kehidupan masyarakat, yaitu perubahan dalam cara berpikir dan interaksi sesama warga menjadi makin rasional; perubahan dalam sikap dan orientasi kehidupan ekonomi menjadi makin komersial; perubahan dalam tata cara kerja sehari-hari yang makin ditandai dengan pembagian kerja pada spesialisasi kegiatan yang makin tajam; Perubahan dalam kelembagaan dan kepemimpinan masyarakat yang makin demokratis; perubahan dalam cara dan alat-alat kegiatan yang makin modern dan efisien, dan lain-lainnya.

Pandangan perubahan sosial menurut Spencer dan Comte banyak dipengaruhi teori evolusi organic dalam biologi, yaitu perkembangan masyarakat dilihat secara evolusi linear. Spencer (1892) memandang perkembangan manusia melalui beberapa tahapan yang mebawa kepada kompleksitas dan keanekaragaman, struktur dan fungsi beberapa bagian tertentu dalam kehidupan itu saling bergantung. Dan Comte (1877) perkembangan peikiran manusia melalui tahapan ideology-metafisik-positivisme, ketiga tahapan itu juga merupakan manifestasi tiga bentuk organisasi sosial. Sehingga teori Spencer dan Comte dianggap teori kemajuan.

Evolusi Masyarakat atau Taraf Diferensiasi, Herbert Spencer
Spencer (1820-1903) dalam bukunya Sociology[1], mengemukakan bahwa hukum perkembangan organisme merupakan hukum dari semua perkembangan, teori tersebut berdasarkan konsep evolusi biologic Lamarck dan Darwin[2]. Dinyatakan oleh teori evolusi, makhluk hidup berevolusi perlahan-lahan, yakni, dia menjadi dewasa dan memperlihatkan sifat-sifat lain, dan selanjutnya berubah menjadi makhluk hidup lainnya[3].

Menurut perkembangan evolusioner, mula-mula yang timbul adalah deferensiasi antara golongan yang memerintah dan golongan pengikut. Kepemimpinan timbul oleh perkembangan keluarga-keluarga yang bersifat menetap atau merupakan suku-suku bangsa nomadik. Sehingga kekuasaan yang tertinggi mengandung sifat yang diwariskan dalam keluarga tertentu.
Secara alamiah pada masyarakat Kayagua atau Indian Hutan dari Amerika Selatan, keluarga-kuluarga jauh bermukim satu sama lainnya. Ikatan antar keluarga adalah kepemimpinan kepala suku, seperti di Aborigin Australia dan Eskimo. Perkembangan ditandai oleh adanya pemisahan hal-hal yang religi dan sekular. Pada umumnya perkembangan ditandai dengan suatu pembagian kerja, yang menjadi ciri masyarakat maju.

Spencer menganggap masyarakat sebagai suatu organisme, yang karena itu tumbuh kembang. Evolusi struktur dalam masyarakat adalah dari satu yang berbentuk ssederhana kebentuk yang kompleks atau dari homogin ke hiterogin. Perubahan memperlihatkan diferensiasi sosial, yaitu evolusi fungsi dan saling ketergantungan antara bagian-bagian dalam masyarakat[4]. Sehingga proses perubahan sosial menyebabakan perubahan seterusnya pada organisasi sosial, seperti kelompok sukubangsa (tribe), kepemimpinan suku (chieftainship), seorang ketua dari kepala-kepala bagian dalam kumpulan sosial sekunder dan suku bangsa yang lebih berkuasa meneguhkan ciri-ciri militer dengan penaklukakn melalui peperangan atau menagadakan persahabatan dengan suku bangsa lain.

Sehingga pendapat Spencer dapat disimpulkan bahwa, (1) berbagai fakta menunjukkan evolusi sosial adalah bentuk dari suatu bagian keseluruhan evolusi masyarakat memperlihatkan suatu intregitas, (2) perubahan dari homoginitas kepada heteroginitas dari kelompok kecil (tribe) ke bangsa beradab adalah penuh dengan ketaksamaan structural dan fungsional.

Perkembangan Peradaban Tiga Tahapan, Auguste Comte

August Comte menyatakan bahwa perubahan sosial berlangsung secara evolusi melalui suatu tahapan-tahapan perubahan dalam alam pemikiran manusia, yang oleh Comte disebut dengan evolusi intelektual. Tahapan-tahapan pemikiran tersebut mencakup tiga tahap, dimulai dari tahap Teologis Primitif, kedua; tahap Metafisik transisional, dan ketiga; tahap positif rasional. Setiap perubahan tahap pemikiran manusia tersebut mempengaruhi unsur kehidupan masyarakat lainnya, dan secara keseluruhan juga mendorong perubahan sosial[5].
Menurut tahapan teologi, manusia menyusun mitos atau dongeng untuk meneganal realita atau kenyataan[6]. Dengan demikian mereka memakai ide-ide keagamaan atau theology guna memberikan penjelasan tentang seua gejala dan kejadian kehidupan itu maupun alam. Bentuk awal cara berfikir tersebut adalah fetisyisme dan animisme, alam ini dianggap berjiwa seperti halnya manusia, dunia dianggap sebagai kediaman para roh. Politesme, suatu bentuk pemikiran manusia lebih maju, mulai menggabungkan seua benda dan kejadian berdasarkan kesamaan yang didapat. Monoteisme, manusia percaya bahwa hanya ada satu Tuhan yang berdaulat dan berkuasa mutlak atas langit dan bumi.

Pada tahap Metafisika, semua gejala dan kejadian alam tidak lagi dianggap sebagai hal yang langsung disebabkan roh, dewa atau kuasa tinggi lainnya tetapi karena akal budi untuk mencari pemahaman dan penjelasan dengan membuat abstraksi dan konsep metafisis.misalnya hokum alam, kodrat manusia dan keharusan mutlak.

Dalam tahap Positivisma gejala alam dijelaskan oleh akal budi berdasarkan kaidah-kaidah yang dapat diamati, diuji dan dibuktikan secara empiric. Menurut Comte evolusi manusia ditentukan oleh ide-ide, walaupun tidak dikesampingkan faktor-faktor lain, seperti pertambahan pendiduk dapat endorong evolusi. Ia juga membuat korelasi antar tahapan yang mendasar dengan tahap perkembangan kehidupan material manusia, tipe satuan sosial, tipe orde atau tatanan sosial dan perasaan umum yang berwujud pada setiap tahapan.



DAFTAR PUSTAKA

Ali, Abdullah dan Eny Rahma.2004. Ilmu Alamiah Dasar.
Garna.Judistira K.1993.Teori-Teori Perubahan Sosial.Bandung: program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.
Yahya, Harun. Mari menyelidiki Kekeliruan Teori Evolusi. Online in My Digital Library (E:\Koleksi Pustaka\Bacaan Religi)
http://pustaka.ut.ac.id/learning.php?m=learning2&id=440

[1] New York: Appleton & Co.,1892, Vol.1
[2] Ibid,hlm.11.
[3] Harun Yahya. Mari menyelidiki Kekeliruan Teori Evolusi. Perpustakaan Digital
[4] Ibid,hlm.9-13.
[5] http://pustaka.ut.ac.id/learning.php?m=learning2&id=440
[6] Menurut C.A. van Peursen dalam buku Ilmu Alamiah Dasar.hlm.6. Abdullah Ali dan Eni Rahma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JAZAKUMULLAH KHAIR
YAA.., ATAS KUNJUNGANNYA DAN KOMENTARNYA
I WISH YOU LUCK